Berita Terkini

[News][slideshow]

Artikel

Obama kembali bertemu Raja Salman di Riyadh


RIYADH - Presiden AS Barack Obama pada Rabu (20/4) bertemu dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz di ibu kota Kerajaan Arab itu, Riyadh, sebelum pertemuan puncak pemimpin negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Obama menggaris-bawahi pentingnya untuk mempercepat kegiatan melawan IS dan menyambut baik peran penting Arab Saudi dalam koalisi melawan kelompok teror, demikian isi pernyataan Gedung Putih.

Kedua pemimpin tersebut juga membahas krisis regional di Suriah, Yaman dan Irak, dan tantangan yang ditimbulkan oleh kegiatan Iran.

Itu adalah kunjungan keempat Obama ke negara yang kaya akan minyak di Teluk tersebut sejak ia memangku jabatan pada 2009.

Kerajaan itu dipandang sebagai salah satu sekutu paling strategis Washington di Timur Tengah, tapi hubungan bilateral mereka tegang gara-gara kesepakatan nuklir yang dicapai dengan Iran tahun lalu.

Beberapa jam sebelum Obama bertemu dengan Raja Salman, Menteri Pertahanan AS Ashton Carter mengadakan pembicaraan dengan timpalannya dari Teluk mengenai kerja sama militer dan perkembangan terkini di Timur Tengah, kata Xinhua, Kamis pagi. Pembicaraan tersebut meliputi apa yang digambarkan sebagai kegiatan Iran yang merusak kestabilan dan kelompok IS, kata Sekretaris Jenderal GCC Abdullatif Az-Zayani.

Negara GCC dan Amerika Serikat telah sepakat untuk melakukan patroli gabungan guna menghentikan pengiriman senjata Iran sampai ke Yaman, kata Az-Zayani.

Kepala Pertahanan AS itu mendesak anggota GCC agar lebih terlibat dalam membantu Pemerintah Irak memerangi IS dan membangun kembali daerah tempat gerilyawan telah diusir.

GCC terdiri atas Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Pertemuan puncak tersebut dilancarkan setelah Obama mengeritik peran regional Arab Saudi, yang memicu reaksi keras dari keluarga Kerajaan Arab Saudi.

Dalam wawancara belum lama ini dengan Atlantic, Obama menggambarkan Arab Saudi dan sekutu lain AS sebagai "pengendara bebas" dalam kebijakan luar negeri AS", dan mengeritik apa yang ia pandang sebagai pendanaan Riyadh buat sikap nontoleransi agama.

Hampir setahun lalu, pada Mei 2015, Obama menjamu para pemimpin negara Teluk di Gedung Putih dan Camp David, pertemuan pertama dengan para pemimpin negara Teluk setelah kesepakatan kerangka kerja mengenai pembatasan program nuklir Iran.

Selain Kuwait dan Qatar, pemimpin dari empat negara lain GCC absen dalam pertemuan puncak 2015 tersebut.

Tidak ada komentar: