Berita Terkini

[News][slideshow]

Artikel

Jusuf Kalla: “Toleransi Beragama Kini Sudah Disalahartikan”


Bagi mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, toleransi beragama di Indonesia secara formal sudah pada jalurnya. Bahkan, budaya ini melebihi negara Asia Tenggara lainnya, atau Amerika dan Eropa sekalipun.

Sebagaimana wawancara yang dikutip dari merdekacom Senin lalu, Kalla mengatakan, toleransi harus dilakukan dua pihak, kelompok mayoritas dan minoritas.

"Saat ini, seakan-akan yang mayoritas harus toleran kepada minoritas. Harusnya juga yang minoritas toleran kepada yang mayoritas", kata Kalla.

Menurut Kalla, Orang konflik karena adanya ketidakadilan, harus menyelesaikan keadilannya dan ketegasannya.

"Bagaimana orang berkelahi terus, kantor bupati dibakar, polisi hanya melihat saja. Jadinya seperti hukum rimba. Artinya, kalau orang bunuh orang ramai-ramai atau bakar ramai ramai tidak ada hukumannya. Saya waktu itu peringatkan Kapolri sampai Kapolda dan mengatakan ini kepada presiden, ini bahaya jika terjadi pembiayaran," tutur Kalla.

Kalla mengatakan bukanlah resolusi konflik yang dibutuhkan, melainkan bagaimana konflik itu bisa di cegah.

"Caranya, jaga keadilan dan wibawa hukum. Kalau salah, tangkap saja, kalau tidak salah, jangan. Yang paling penting jadi teladan yang baik," ungkapnya.

Kalla menuturkan, Kebebasan beragama beda dengan kebebasan membangun rumah ibadah. Kekebasan beragama hak semua orang. Tapi membangun rumah ibadah, itu urusan wali kota, bukan urusan Tuhan. Sama dengan semua orang bebas berpendidikan, bebas berusaha. Tapi tidak semua orang bisa bikin pasar di mana pun, bisa bikin sekolah dimana saja.

"Tapi Anda boleh berdoa di mana pun karena Tuhan akan menerima. Orang mempersepsikan sekarang tidak diizinkan membangun rumah ibadah melanggar kebebasan beragama. Itu beda dan selalu disalahartikan," tutur JK. Bahkan Kalla mencontohkan, di Indonesia punya gereja terbesar di Kemayoran.

"Namanya toleransi harus kedua pihak. Toleransi itu harus saling memahami. Saat ini, seakan-akan yang mayoritas harus toleran kepada minoritas, tapi harusnya juga yang minoritas toleran kepada yang mayoritas," tandas Kalla. (*/sr/merdeka)


Tidak ada komentar: