Berita Terkini

[News][slideshow]

Artikel

Kisah Perjalanan Rosihan Anwar: “Brief Encounter in Aceh”


Sebagai wartawan, saya mengalami "brief encounter" (pertemuan singkat) dengan beberapa putra Aceh, bertemu, berpisah, tiada lagi berjumpa. [Rosihan Anwar]

Oleh (Alm) Rosihan Anwar  (*

TIAP orang dalam hidupnya mengalami brief encounter, pertemuan singkat. Bukan seperti dalam film tahun 1950-an, Brief Encounter, pertemuan seorang perwira Amerika dengan wanita Inggris di London dalam Perang Dunia II, menjalin asmara, bermuara duka-cerita sang perwira, gugur di medan laga.

Sebagai wartawan, saya mengalami brief encounter dengan beberapa putra Aceh, bertemu, berpisah, tiada lagi berjumpa.

Salah satu putra Aceh itu ialah Teungku Daud Beureueh, ulama legendaris, Ketua Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), Gubernur Militer Provinsi Aceh di zaman revolusi, pemimpin gerakan Darul Islam (DI). Saya lihat Daud Beureueh pertama kali di Kota Radja (Banda Aceh) tahun 1952 pada masa kabinet PM Dr Sukiman, tatkala saya dan wartawati Tuty Azis (dari Surabaya) ikut dalam rombongan Presiden Soekarno.

Daud Beureueh ketika itu sudah setengah baya. Bersama pemimpin Aceh lain, dia menyambut kedatangan Bung Karno di rumah kediaman Residen Aceh Danubroto. Ia bersalam dengan Presiden. Duduk di kursi baris depan berhadapan dengan Bung Karno. Ia berkopiah dan kaca mata hitam, pegang tongkat di tangan kanan, tidak bicara dengan orang sebelahnya.

Penampilannya kurang ramah walau sudah kenal Bung Karno yang mengunjungi Kota Radja bulan Juni 1948. Ketika itu Bung Karno minta dana sumbangan untuk membeli pesawat terbang. Uang 120.000 dollar Malaya dan emas 20 kilogram sumbangan rakyat Aceh terkumpul, cukup membeli pesawat terbang jenis Dakota. Bung Karno secara khusus memberi nama pesawat sumbangan rakyat Aceh itu Seulawah RI-001, diterbangkan oleh perwira AURI, Wiweko Supeno, yang di belakang hari menjadi Direktur Utama PN Garuda.

Daud Beureueh hanya menatap ke depan waktu Bung Karno berpidato. Mimik ekspresinya datar, tidak menunjukkan sesuatu emosi. Ia sedang marah sama pemerintah pusat. Mengapa Aceh dimasukkan sebagai bagian Provinsi Sumatera Utara? Mengapa Aceh tidak diberi status provinsi? Status keresidenan menyinggung kehormatan Aceh yang telah berjuang menegakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Tahun 1953 Daud Beureueh "masuk hutan" dan memimpin gerakan Darul Islam menentang pemerintah pusat. Kemudian ia bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sungguhpun demikian, Daud Beureueh tidak pernah menyatakan mau merdeka sendiri, mau memisahkan Aceh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia hanya ingin status istimewa bagi daerah Aceh, dibolehkan melaksanakan syariat Islam.

Setelah bertahun-tahun dalam hutan, dia kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Ia tidak kalah, juga tidak menang.

HASSAN Tiro. Saya bertemu dengan dia tidak di Aceh, tapi di New York tahun 1954. Dia mahasiswa sambil bekerja di kantor perwakilan Indonesia di PBB sebagai staf lokal. Dia duduk dalam taksi di samping saya waktu menuju penginapan saya di Kampus Universitas Columbia.

Ia mengorek informasi dari saya mengenai situasi politik di Indonesia. Ia sangat anti-Soekarno. Ia bicara tentang Aceh yang bergolak karena aksi Daud Beureueh. Respons saya kurang disenanginya. Terbukti dia tidak lagi mencari kontak. Hanya suatu brief encounter.

Di New York, Hassan Tiro menamakan dirinya "Duta Besar Aceh" pada PBB. Ia mengaku diangkat oleh Raja Faisal dari Arab Saudi sebagai penasihat utama Kongres Islam Sedunia. Ia punya hubungan baik dengan pemimpin Libya, Khadafy. Bulan Juni 1976, ia kembali ke Aceh. Tanggal 4 Desember 1976 ia mengumumkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Awal 1978 sebuah gerombolan bersenjata menyerang proyek LNG Arun di Aceh Utara. Seorang warga Amerika tewas. Gangguan keamanan timbul di tempat-tempat lain. Siapa di belakangnya? Nama Hassan Tiro muncul.

Dalam surat kabar New Straits Times di Kuala Lumpur saya menulis akhir Juli 1978: "Rakyat Aceh tidak bersedia diseret ke dalam petualangan Hasan Tiro. TNI mahir dalam perang wilayah. Hanyalah soal waktu bagi TNI untuk menumpas GAM". Ternyata saya keliru. GAM masih ada pada tahun 2003 ini.

Suatu brief encounter lagi. Saya bertemu dengan Nurdin Abdur Rahman pada tahun 1986 ketika di Kota Sigli diadakan Pertemuan Sastrawan Indonesia-Malaysia-Singapura. Nurdin, Bupati Pidie juga sastrawan, dikenal sebagai "Bupati Jango" karena mengingatkan pada koboi Jango yang diperankan oleh Franco Nero.

Dalam pertemuan itu hadir serta Mochtar Lubis dan istrinya Halimah, Arifin C Noer dan istrinya Jajang, Taufiq Ismail dan istrinya Ati, Sutardji Calzoum Bachri, L Ara, Ibrahim Alfian, Hasballah. Saya menginap di rumah Bupati Pidie sekamar dengan Ali Hasymi, mantan Gubernur Aceh, penyair Poedjangga Baroe.

Dalam Perang Aceh, Sigli merupakan pangkalan utama operasi Belanda, setelah Letnan Jenderal Van Heutsz menyerang Pidie dengan 6.000 serdadu. Daerah Pidie terkenal sebagai sumber pergolakan.

Di zaman Indonesia Merdeka di sana terdapat Tentara Islam Indonesia (TII) yang mengikuti gerakan Darul Islam Daud Beureueh, menentang Presiden Soekarno. Pada tahun 1959, TII menyerah kepada KSAD Jenderal AH Nasution yang khusus datang ke Pidie di tempat bernama Jabal Gafur.

Menurut Nurdin AR, Jabal Gafur berarti "Bukit Pengampunan" atau "Amnesty Hill". Di tempat itu ia mendirikan kampus universitas untuk mendidik generasi muda Pidie.

"Orang di sini cenderung memandang secara ekstrem dan hanya mengenal warna hitam atau putih. Warna kelabu tidak dikenalnya. Melalui pendidikan, semua itu perlahan-lahan akan dapat diubah," kata Bupati Nurdin kepada saya ketika kami berjalan di padang terbuka di Jabal Gafur.

Sayang, cita-citanya itu tidak kesampaian. Kelak kampus universitas di Jabal Gafur dibakar habis oleh gerombolan bersenjata. Bupati Nurdin AR kini sudah almarhum.

TATKALA rombongan sastrawan hendak kembali ke Jakarta, mereka sempat berkunjung ke Daud Beureueh yang atas "petunjuk Bapak Presiden" berdomisili di Aceh. Daud Beureueh sudah tua renta, dalam keadaan buta, tertambat pada ranjang tidurnya. Menantunya membawa rombongan kami ke kamar Daud Beureueh. Waktu nama saya disebutkan di depannya, reaksinya ialah masih kenal dan ingat.

Kami tidak bisa bercakap-cakap lama dengan orang tua yang sakit-sakitan itu. Ketika keluar dari kamar Daud Beureueh, tiba-tiba presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri menangis keras, menjerit histeris, tersedu-sedu tanpa terkontrol. Sutardji sangat terharu melihat keadaan Daud Beureueh. Suatu brief encounter berakhir pula? Belum.

Pada suatu malam di rumah Bupati Nurdin, saya dikunjungi oleh seorang pemuda Aceh yang identitasnya di sini disamarkan. Ia berdiskusi dengan saya mengenai konsep negara bangsa (nation state). Ia bicara tentang Aceh dan sejarahnya sejak zaman kesultanan. Ia tidak sembunyikan di mana simpatinya berada, yaitu di pihak GAM dan Hassan Tiro.

Ia cerdas kedengarannya. Dalam hati saya tidak setuju dengan pandangannya. Seakan dia melupakan bahwa di zaman Sultan Iskandar Muda pun Aceh terdiri dari berbagai "negara kecil" atau "staatjes", bahwa pertentangan antara ulama dan ulebalang berkembang laten, bahwa peristiwa Cumbok Januari 1946 dan revolusi sosial yang menyusul menunjukkan Aceh sulit bersatu. Akan tetapi, saya dengarkan uraian pemuda Aceh itu yang bertemu dengan saya dalam suasana agak misterius. Brief encounter berakhir.

Dalam pada itu pergolakan di Aceh berjalan terus. Sepuluh tahun masa daerah operasi militer (DOM) yang diberlakukan oleh rezim Soeharto dan ABRI-nya. Banyak korban rakyat berjatuhan. Kekerasan, ketidakadilan, dan pelanggaran HAM merajalela. Dan kini setelah melalui Jeda Kemanusiaan tahun 2000, pertempuran berkobar lagi. Darurat militer diberlakukan di Aceh.

Belum juga habis-habisnya derita rakyat Aceh? Saya tidak mampu menjawab. Apalah daya saya? Teringat lagi saya Brief Encounter in Aceh.


Tidak ada komentar: